SELAMAT DATANG DI BLOG PRIBADI RIZAL TAUFIK

teNtan9 urang...

Foto saya
bAnd0En9, pAriz vAn Java, Indonesia
saya adalah orang yang gak mau di bawa ntuk RIBET..... simple adalah jiwa SAYA

PASKIBRA SMK Negeri 6 Bandung

PASKIBRA SMK Negeri 6 Bandung

Minggu, 22 Februari 2009

SEJARAH BENDERA PUSAKA

1. Bendera Pusaka
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan pada hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Setelah pernyataan kemerdekaan tersebut, untuk pertama kalinya secara resmi Bendera Kebangsaan Merah Putih dikibarkan oleh Latief Hendaningrat dan Suhud. S. Bendera tersebut merupakan hasil jahitan Ibu Fatmawati Soekarno dan selanjutnya bendera inilah yang disebut “Bendera Pusaka”Bendera Pusaka berkibar siang dan malam ditengah hujan, tembakan sampai Ibukota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta pada tahun 1946.Pada tahun 1948 Belanda melancarkan agresi militernya. Pada waktu itu Ibukota RI berada di Yogyakarta, Bapak Husein Mutahar (Bapak Paskibraka-red) ditugaskan oleh Presiden Soekarno untuk menyelematkan Bendera Pusaka. (Penyelematan Bendera tersebut merupakan salah satu bagian dari sejarah untuk menegakan berkibarnya Sang Merah Putih di persada Ibu Pertiwi)Untuk menyelamatkan Bendera Pusaka tersebut terpaksa Bapak Husein Mutahar harus memisahkan antara bagian yang merah serta putihnya. Akhirnya dengan bantuan Ibu Perna Dinata benang jahitan diantara Bendera tersebut berhasil dipisahkan. Selanjutnya kedua bagian tersebut masing-masing di simpan sebagai dasar pada kedua tas Bapak Husein Mutahar yang selanjutnya tas tersebut diisi dengan pakaian serta perlengkapan pribadi miliknya. Hal ihwal Bendera tersebut dipisahkan, karena pada waktu itu beliau mempunyai pemikiran bahwa setelah dipisah Bendera tersebut tidak lagi dapat dikatakan Bendera karena hanya sebatas secarik kain. Hal ini dilakukan guna menghindari penyitaan dari pihak Belanda.Tak lama setelah Presiden menyerahkan Bendera Pusaka, Beliau ditangkap dan diasingkan oleh Belanda bersama Wakil Presiden beserta staf kepresidenan lainnya ke Muntok, Bangka Sumatera. Sekitar pertengahan bulan Juni 1948 Bapak Husein Mutahar menerima berita dari Bapak Soejono , isi pemberitahuan itu yakni adanya surat pribadi Presiden pada dirinya yang pada pokoknya Presiden memerintahkan Bapak Husein Mutahar guna menyerahkan kembali Bendera Pusaka kepada Beliau dengan perantaraan Bapak Soejono yang selanjutnya Bendera Pusaka tersebut dibawa serta diserahkan kepada Presiden ditempat pengasingan (Muntok, Bangka).Setelah mengetahui hal tersebut, dengan meminjam mesin jahit milik isteri seorang dokter, Bendera Pusaka yang terpisah menjadi dua bagian tersebut disatukan kembali persis pada posisinya semula, akan tetapi sekitar 2 cm dari ujung Bendera ada sedikit kesalahan jahit.Selanjutnya Bendera tersebut di serahkan kepada Bapak Soejono sesuai dengan isi surat perintah Presiden.


2. Pengibaran Bendera Merah Putih di Gedung Agung Yogyakarta
Menjelang peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke II (1946-red), Presiden memanggil salah seorang ajudan beliau, yaitu Bapak Mayor Laut (L) Husein Mutahar (yang kelak menyelamatkan Bendera Pusaka-red). Selanjutnya memberikan tugas untuk mempersiapkan dan memimpin upacara peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1946 di Halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta (pada tahun 1946 Ibukota RI berada di Yogyakarta-red).Pada saat itu Bapak Husein Mutahar mempunyai pemikiran bahwa untuk menumbuhkan rasa persatuan bangsa maka pengibaran Bendera Pusaka sebaiknya dilakukan oleh para pemuda se-Indonesia. Kemudian beliau menunjuk 5 orang pemuda yang terdiri dari 3 orang putera dan 2 orang puteri perwakilan daerah yang berada di Yogyakarta.Formasi pengibaran seperti ini dilakukan sampai dengan tahun 1948.Pada tanggal 6 Juli 1949 Presiden bersama Wakil Presiden tiba kembali di Yogyakarta dari Bangka (tempat pengasingan-red) dengan membawa kembali Bendera Pusaka. Tanggal 27 Desember 1949 dilakukan penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan di Negeri Belanda dan mengubah bentuk negara Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat dan menyerahkan kekuasaan di Jakarta. Sedangkan penyerahan kedaulatan dari Republik Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat dilakukan di Yogyakarta.Tanggal 28 Desember 1949 Presiden kembali ke Jakarta guna memangku jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat. Setelah empat tahun ditinggalkan, Jakarta kembali menjadi Ibukota RI dan pada hari itu juga Bendera Pusaka juga dibawa ke Jakarta.Untuk pertama kali peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1950 diselenggarakan di Istana Merdeka, Jakarta. Bendera Pusaka Merah Putih berkibar dengan megahnya di tiang tujuh belas dan disambut dengan penuh kegembiraan oleh seluruh bangsa Indonesia.Regu-regu pengibar dari tahun 1950-1966 dibentuk dan diatur oleh Rumah tangga Kepresidenan.


3. Percobaan Pembentukan Pasukan Penggerek Bendera Pusaka Tahun 1967 dan Pasukan Pertama Tahun 1968
Pada tahun 1967 Bapak Husein Mutahar dipanggil oleh Presiden Soeharto untuk menangani lagi masalah Pengibaran Bendera Pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta (5 orang-red), kemudian beliau mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu : Kelompok 17/Pengiring (Pemandu), Kelompok 8/Pembawa (Inti), Kelompok 45/Pengawal. Ini merupakan simbol yang diambil dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945Pada saat itu dengan situasi dan kondisi yang ada, beliau melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas Pengibaran Bendera Pusaka.Semula rencana beliau untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri dari para Mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI-red) , tetapi pada waktu itu libur perkuliahan dan transfortasi Magelang-Jakarta menjadi kendala, sehingga sulit untuk dilaksanakan.Usul lain untuk menggunakan pasukan elite ABRI (RPKAD, PGT, MARINIR, BRIMOB) juga tidak mudah. Akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah dihubungi dan sekaligus mereka bertugas di Istana Jakarta.Tahun 1968, petugas Pengibar Bendera Pusaka adalah pemuda utusan propinsi. Tetapi belum seluruh propinsi mengirimkan utusan sehingga harus ditambah oleh ex-anggota pasukan tahun 1967.Tahun 1969 karena Bendera Pusaka kondisinya terlalu tua sehingga tidak mungkin untuk dikibarkan kembali, maka dibuatlah duplikat. Untuk dikibarkan di tiang 17 Meter Istana Merdeka, telah tersedia Bendera Merah Putih dari bahan Bendera (wool) yang dijahit 3 potong memanjang kain merah dan 3 potong memanjang kain putih kekuning-kuningan.Bendera Merah Putih duplikat Bendera Pusaka yang akan dibagikan ke daerah idealnya terbuat dari sutra alam dan alat tenun asli Indonesia, yang warna merah dan putihnya langsung ditenun menjadi satu tanpa dihubungkan dengan jahitan dan warna merahnya cat celup asli Indonesia.Pembuatan Duplikat Bendera Pusaka ini dilaksanakan oleh Balai Penelitian Tekstil Bandung dengan dibantu oleh PT Ratna di Ciawi Bogor. Dalam prakteknya pembuatan duplikat Bendera Pusaka, sukar untuk memenuhi syarat ideal yang ditentukan Bapak Husein Mutahar, karena cat asli Indonesia tidak memiliki warna merah yang standar dan pembuatan dengan alat tenun bukan mesin akan lama.Tanggal 5 Agustus 1969 di Istana Negara Jakarta berlangsung upacara penyerahan Duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan Reproduksi Naskah Proklamasi oleh Presiden Soeharto kepada Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I Seluruh Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar pada waktu upacara peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan di masing-masing daerah dapat dikibarkan duplikat Bendera Pusaka dan pembacaan Naskah Proklamasi bersamaan dengan Upacara Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan yang dilakukan di Istana Merdeka, Jakarta. Selanjutnya kedua benda tersebut juga di bagikan ke Daerah Tingkat II serta perwakilan-perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.Bendera Duplikat mulai dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka, sedangkan Bendera Pusaka bertugas mengantar dan menjemput Bendera Duplikat yang dikibarkan/diturunkan. Pada tahun itu juga resmi anggota PASKIBRAKA adalah remaja SMTA se-tanah air yang merupakan utusan dari tiap-tiap propinsi. Setiap propinsi di wakili oleh sepasang remaja.Pada tahun 1973 Bapak Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk anggota Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan PASKIBRAKA. PAS akronim dari Pasukan, KIB akronim dari Pengibar, RA berati bendera, KA berati Pusaka. Mulai saat itulah resmi singkatan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka adalah PASKIBRAKA sampai saat ini.


Dirangkum dariBuku Kenangan 25 Tahun
PASKIBRAKADirektorat Pembinaan Generasi MudaDitjen Diklusepora Depdikbud
Tahun 1993



Beberapa hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI pertama. Presiden Soekamo memberi tugas kepada ajudannya,Mayor M. Husein Mutahar untuk mempersiapkan upacara peringatanDetik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1946, dihalaman Istana Presiden Gedung Agung YogyakartaPada saat itu, sebuah gagasan berkelebat di benak Mutahar. Alangkah baiknya bila persatuan dan kesatuan bangsa dapat dilestarikan kepada generasi muda yang kelak akan menggantikan para pemimpin saat itu. Pengibaran bendera pusaka bisa menjadi simbol kesinambungan nilai-nilai perjuangan. Karena itu, para pemudalah yang harus mengibarkan bendera pusaka. Dari sanalah kemudian dibentuk kelompokkelompok pengibar bendera pusaka, mulai dari lima orang pemuda - pemudi pada tahun 1946 —yang menggambarkan Pancasila.Namun, Mutahar mengimpikan bila kelak para pengibar bendera pusaka itu adalah pemuda-pemuda utusan dari seluruh daerah di Indonesia. Sekembalinya ibukota Republik Indonesia ke Jakarta, mulai tahun 1950 pengibaran bendera pusaka dilaksanakan di Istana Merdeka Jakarta. Regu-regu pengibar dibentuk dan diatur oleh Rumah Tangga Kepresidenan Rl sampai tahun 1966. Para pengibar bendera itu memang para pemuda, tapi belum mewakili apa yang ada dalam pikiran Mutahar. Tahun 1967, Husain Mutahar kembali dipanggil Presiden Soeharto untuk dimintai pendapat dan menangani masalah pengibaran bendera pusaka. Ajakan itu, bagi Mutahar seperti "mendapat durian runtuh" karena berarti ia bisa melanjutkan gagasannya membentuk pasukan yang terdiri dari para pemuda dari seluruh Indonesia. tersirat dalam benak Husain Mutahar akhirnya menjadi kenyataan. Setelah tahun sebelumnya diadakan ujicoba, maka pada tahun 1968 didatangkanlah pada pemuda utusan daerah dari seluruh Indonesia untuk mengibarkan bendera pusaka. Sayang, belum seluruhnya provinsi bisa mengirimkan utusannya, sehingga pasukan pengibar bendera pusaka tahun itu masih harus ditambah dengan eks anggota pasukan tahun 1967.Selama enam tahun, 1967-1972, bendera pusaka dikibarkan oleh para pemuda utusan daerah dengan sebutan “Pasukan Penggerek Bendera Pusaka”. Nama, pada kurun waktu itu memang belum menjadi perhatian utama, karena yang terpenting tujuan mengibarkan bendera pusaka oleh para pemuda utusan daerah sudah menjadi kenyataan. Dalam mempersiapkan Pasukan Penggerek Bendera Pusaka, Husein Mutahar sebagai Dirjen Udaka (Urusan Pemuda dan Pramuka) tentu tak dapat bekerja sendiri. Sejak akhir 1967, ia mendapatkan dukungan dari Drs Idik Sulaeman yang dipindahtugaskan ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (dari Departemen Perindustrian dan Kerajinan) sebagai Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan. Idik yang terkenal memiliki karakter kerja sangat rapi dan teliti, lalu mempersiapkan konsep pelatihan dengan sempurna, baik dalam bidang fisik, mental, maupun spiritual. Latihan yang merupakan derivasi dari konsep Kepanduan itu diberi nama ”Latihan Pandu Ibu Indonesia Ber-Pancasila”. Setelah melengkapi silabus latihan dengan berbagai atribut dan pakaian seragam, pada tahun 1973 Idik Sulaeman melontarkan suatu gagasan baru kepada Mutahar. ”Bagaimana kalau pasukan pengibar bendera pusaka kita beri nama baru,” katanya. Mutahar yang tak lain mantan pembina penegak Idik di Gerakan Pramuka menganggukkan kepala. Maka, kemudian meluncurlah sebuah nama antik berbentuk akronim yang agak sukar diucapkan bagi orang yang pertama kali menyebutnya. Akronim itu adalah PASKIBRAKA, yang merupakan singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. ”Pas” berasal dari kata pasukan, ”kib” dari kata kibar, ”ra” dari kata bendera dan ”ka” dari kata pusaka. Idik yang sarjana senirupa lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itupun juga segera memainkan kelentikan tangannya dalam membuat sketsa. Hasilnya, adalah berbagai atribut yang digunakan Paskibraka, mulai dari Lambang Anggota, Lambang Korps, Kendit Kecakapan sampai Tanda Pengukuhan (Lencana Merah-Putih Garuda/MPG). Nama Paskibraka dan atribut baru itulah yang dipakai sejak tahun 1973 sampai sekarang. Sulitnya penyebutan akronim Paskibraka memang sempat mengakibatkan kesalahan ucap pada sejumlah reporter televisi saat melaporkan siaran langsung pengibaran bendera pusaka setiap tanggal 17 Agustus di Istana Merdeka. Bahkan, tak jarang wartawan media cetak masih ada yang salah menuliskannya dalam berita, misalnya dengan ”Paskibrata”. Tapi, bagi para anggota Paskibraka, Purna (mantan) Paskibraka maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya, kata Paskibraka telah menjadi sesuatu yang sakral dan penuh kebanggaan.Memang pernah, suatu kali nama Paskibraka akan diganti, bahkan pasukannya pun akan dilikuidasi. Itu terjadi pada tahun 2000 ketika Presiden Republik Indonesia dijabat oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kata ”pusaka” yang ada dalam akronim Paskibraka dianggap Gus Dur mengandung makna ”klenik”. Untunglah, dengan perjuangan keras orang orang yang berperan besar dalam sejarah Paskibraka, akhirnya niat Gus Dur untuk melikuidasi Paskibraka dapat dicegah. Apalagi, Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1958 tentang Bendera Kebangsaan Republik Indonesia, pada pasal 4 jelas-jelas menyebutkan: (1) BENDERA PUSAKA adalah Bendera Kebangsaan yang digunakan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945. (2) BENDERA PUSAKA hanya dikibarkan pada tanggal 17 Agustus. (3) Ketentuan-ketentuan pada Pasal 22 tidak berlaku bagi BENDERA PUSAKA. (Pasal 22: Apabila Bendera Kebangsaan dalam keadaan sedemikian rupa, hingga tak layak untuk dikibarkan lagi, maka bendera itu harus dihancurkan dengan mengingat kedudukannya, atau dibakar). Itu berati, bila Presiden ngotot mengubah nama Paskibraka, berarti dia melanggar PP No. 40 Tahun 1958. Presiden akhirnya tidak jadi membubarkan Paskibraka, tapi meminta namanya diganti menjadi ”Pasukan Pengibar Bendera Merah-Putih” saja. Hal ini di-iyakan saja, tapi dalam siaran televisi dan pemberitaan media massa, nama pasukan tak pernah diganti. Paskibraka yang telah menjalani kurun sejarah 32 tahun tetap seperti apa adanya, sampai akhirnya Gus Dur sendiri yang dilengserkan.

Sumber : Bulletin Paskibraka 78,

Edisi Juni 2007
Penulis : Syaiful Azram

PERSIB HARI INI

GOL ROMANTIS
GOL indah yang tercipta dari lob Hilton Moreira pada menit ke-76 memang menjadi penentu kemenangan Persib Bandung pada laga kandang keempat Putaran II Liga Super Indonesia (LSI), Minggu (22/2). Akan tetapi, bagi pemain asal Brasil ini, gol tersebut ternyata mengandung makna yang lebih dalam daripada itu. Suatu makna yang menunjukkan sisi romantisme seorang Hilton Moreira. "Gol ini saya persembahkan untuk Bruna...," katanya sambil tersenyum.

Orang yang dimaksud Hilton adalah sang istri, Bruna Aloise Moreira. Hilton bukannya tengah dimabuk asmara dan menjelma menjadi orang yang gombal karena mempersembahkan gol itu kepada Bruna. Alasannya cuma satu, saat ini perempuan nomor satu dalam hidup mantan pemain Deltras Sidoarjo ini tengah mengandung anak pertama mereka, dan bulan ini, kandungan Bruna memasuki bulan kelima.

Bagi Hilton kehamilan sang istri kali ini memang sangat istimewa, mengingat Bruna pernah mengalami pendarahan beberapa waktu lalu. Itu sebabnya, pria penggemar tato ini sangat berhati-hati menjaga kesehatan istri dan janinnya. Tidak sekali pun dia mengizinkan Bruna untuk menyaksikan langsung aksinya di lapangan. Akan tetapi, dia yakin Bruna menyaksikan segala upayanya untuk mempersembahkan gol, dan merasakan kebahagiaan seperti yang dia rasakan.

Awan romantisme semakin besar menggayut di atas benak Hilton, tatkala waktu kepulangan sang istri ke Brasil semakin dekat. Sesuai dengan kesepakatan bersama, Bruna akan pulang ke Brasil pada 1 Maret, untuk melahirkan di negeri kelahiran pasangan suami istri tersebut. Hilton akan menyusul pada Agustus setelah musim LSI 2008 selesai. "Mudah-mudahan saya pulang dengan gelar juara," ujarnya.

Setelah bergabung dengan pasukan "Pangeran Biru" selama satu tahun, masa pembuktian Hilton memang telah usai. Jajaran pelatih, pengurus, sesama pemain, serta bobotoh sudah mengetahui benar sepak terjang si "Eddy Murphy" ini di lapangan. Dia licin bagaikan belut, lincah bagaikan tupai, dan cerdik bagaikan kancil.

Dilahirkan sebagai striker, Hilton memiliki naluri yang sangat kuat untuk mencetak gol. Namun, dia juga membuktikan dapat mengatasi peran sebagai gelandang yang berbahaya pada beberapa permainan. Sebagai pemain profesional, pemain kelahiran 27 Februari 1981 ini memercayakan posisi bermainnya kepada pelatih. Asalkan dapat mempersembahkan kemenangan bagi "Maung Bandung," maka tidak ada masalah. Atas sikap dan kualitas permainannya itu, Hilton banyak diwaspadai lawan.

Seperti malam itu. PKT menjadi korban tuah sang striker, di tengah rasa percaya diri mereka setelah menyamakan kedudukan 1-1 pada menit ke-35. Siapa yang menyangka, bola muntah dari tendangan bebas Nyeck Nyobe yang sulit itu, justru menjadi martir bagi PKT. Penjaga gawang M. Sandi yang telanjur meninggalkan gawang, tak mampu menepis lob Hilton yang langsung bersarang di gawangnya.

Satu gol penentu kemenangan pada laga kandang keempat Persib, sekaligus melesatkan posisi "Maung Bandung" dari peringkat keenam menjadi keempat, dengan koleksi poin 39.

Hilton mungkin tidak tahu bahwa golnya itu juga membawa suasana romantis antara Persib dan bobotoh. Tim kebanggaan rakyat Jawa Barat ini sudah pasti akan semakin mesra dengan para pendukungnya. Bagaimana tidak, harapan untuk mengantarkan Persib sebagai juara LSI kini tidak lagi menjadi isapan jempol belaka.

Persib Ramaikan Persaingan Juara

Tim Persib Bandung bisa menembus posisi "4 Besar" klasemen sementara Liga Super Indonesia (LSI) 2008-2009, sehingga masuk jalur yang benar dalam perebutan gelar juara. Menuntaskan laga kandang terakhir pada empat pertandingan beruntun awal putaran kedua, Persib berhasil memenuhi ambisinya dengan mengalahkan PKT Bontang 2-1, di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kab. Bandung, Minggu (22/2).

Selebrasi "ibu hamil" Hilton Moreira seusai mencetak gol pada menit ke-76, menjadi pertanda keberhasilan Persib mengemas 39 poin hingga pertandingan ke-21 musim ini. Gol pertama lahir melalui tendangan kaki kanan Lorenzo Cabanas hasil umpan dari Christian Gonzales pada menit ke-6.

Namun, sukses merebut tiga poin kemarin, harus dilalui dengan susah payah, dan membuat tegang kubu Persib maupun bobotoh di stadion maupun yang menyaksikan di layar kaca. Betapa tidak, penampilan Eka Ramdani dkk. malam itu, terkesan loyo, karena dihinggapi kelelahan setelah sebelumnya memainkan tiga pertandingan dengan tenggat waktu istirahat cuma tiga dan empat hari.

Selain itu, lapangan yang basah akibat guyuran hujan lebat sebelum dan sepanjang pertandingan, membuat pemain juga seperti berat dalam melangkah. Untungnya, PKT yang memiliki istirahat cukup lama, terbawa irama permainan Persib, sehingga ikut main dalam tempo sedang.

Seusai wasit Oleh Hadi membunyikan peluit panjang, di bench Persib, Pelatih Jaya Hartono langsung sujud syukur dan matanya berkaca-kaca. Ia memeluk Penasihat Tim Zainuri Hasyim, Manajer H. Jaja Soetardja, Wakil Manajer H. Umuh Muchtar, serta menyalami satu per satu pemain. Jaya terlihat tegang terutama setelah terjadi gol balasan PKT. Selain itu, dia juga mendapat desakan kuat dari bobotoh untuk merebut kemenangan, setelah pada dua laga pertama, Persib hanya mampu bermain seri.

"Alhamdulillah ya Allah. Alhamdulillah ya Allah," ujar Jaya Hartono seraya mengusap wajahnya penuh kelegaan, sesaat sebelum konferensi pers dimulai. Raut wajahnya pun berubah ceria, setelah sebelumnya cukup serius menjawab SMS.

Di sisi lain, suasana muram dan dingin menggelayuti kubu PKT yang mengaku tidak puas dengan kepemimpinan wasit Oleh Hadi malam itu. Pelatih Fachri Husaini menilai, wasit banyak mengambil keputusan yang merugikan timnya. "Wasit jauh dari harapan. Sebagai pemimpin pertandingan dia tidak melakukan kewajibannya untuk berbuat adil," ujar Fachri.

Tidak puas

Kendati bahagia menyambut kemenangan ini, Jaya mengaku agak kecewa dengan permainan Eka dkk. Ia menilai, pemain Persib terlalu cepat puas dengan gol cepat Lorenzo Cabanas di menit keenam, hingga terkesan menganggap enteng lawan. Akibatnya, pada menit ke-35 PKT bisa menyamakan kedudukan melalui Titus Bonay.

"Ini salah satu kelemahan Persib. Kalau tidak susah membuat gol, terlalu cepat puas dengan gol cepat. Ini yang harus segera dibenahi, rasa anggap enteng, khususnya di lini belakang. Apalagi kali ini lini pertahanan kehilangan Hariono yang memang andal membantu pertahanan," ujarnya.

Setelah unggul 1-0, Persib sempat meningkatkan tempo permainan, namun PKT berani bermain terbuka sehingga mendapatkan sejumlah peluang. Puncaknya, pada menit ke-35, kelengahan lini pertahanan Persib membuat jala gawang yang berada di bawah penguasaan Tema Mursadad terkoyak oleh striker PKT, Titus Bonay.

Titus yang lolos dari kawalan Maman Abdurahman dan Nova Arianto menyambut umpan lambung Imral Usman yang dilesakkan dari sektor sayap kiri pertahanan Persib. Bukan hanya pemain belakang yang terkesan tidak siap, Tema pun ragu-ragu mengamankan gawang. Akibatnya, bola tendangan setengah voli Titus bersarang di sudut kiri gawang Persib.

"Ini yang tidak saya mengerti. Saat itu posisi Nova lebih depan daripada Titus, tapi dia bisa curi bola dari kaki Nova. Padahal bola dari sayap tidak terlalu kencang. Harusnya pemain belakang bermain save, dengan melakukan sapu bersih. Skor 1-0 itu bukan titik aman karena lawan pasti akan terus berusaha untuk menggempur pertahanan Persib," tutur mantan arsitek Persik Kediri itu.

Sejak kedudukan 1-1 hingga memasuki babak kedua, lini depan Persib memang mengalami kebuntuan. Pada menit ke-53 Pelatih Jaya Hartono pun mengubah strategi dengan memasukkan Rafael Alves Bastos, menggantikan gelandang bertahan Suwita Pata. Tiga striker pun dipasang Persib untuk meningkatkan daya gempur, sehingga Persib tampil dengan pola 4-3-3.

Masuknya Bastos memang mampu kembali meningkatkan gairah permainan Persib. Baru satu menit memasuki lapangan hijau, Bastos nyaris membobol gawang M. Sandi. Sayang, tandukannya masih menyamping tipis.

Baru pada menit ke-76 Hilton Moreira menjadi penentu kemenangan Persib. Ia memanfaatkan tendangan bebas Nyeck Nyobe yang dieksekusi dari daerah pertahanan Persib menyilang ke arah Hilton yang berada di sayap kiri pertahanan lawan.

Melihat posisi kiper M. Sandi terlalu maju, pemain asal Deltras itu langsung melambungkan bola dan langsung masuk ke gawang. "Setelah masuknya Bastos kami memang lebih menekan. Kami memanfaatkan serangan dari sayap. Inilah yang saya sebut sebagai strategi alternatif, menempatkan tiga striker di depan. Alhasil, kami lebih banyak menekan, khususnya dari sayap. Siswanto ditugaskan untuk menahan pergerakan Imral di sayap yang memang cukup agresif," tutur Jaya.

Pelatih PKT Fachri Husaini mengaku cukup puas dengan semangat juang pemain, meski timnya kalah. "Terbukti pada pertandingan tadi, pemain Persib gagal membongkar lini pertahanan kami. Gol pertama Persib terjadi karena pemain belakang kami kurang konsentrasi, sedangkan yang kedua tercipta dari counter attack melalui lob, bukan tembus pertahanan. Tiga striker Persib turun pun tidak banyak mengganggu lini pertahanan kami. Akan tetapi, saya akui, Persib memang tampil solid dan layak untuk menang," ujarnya.


Source: http://www.klik-galamedia.com

IndoNesIa

IndoNesIa
negaraku iTu

PERSIB...

PERSIB...

PERSIB...08

PERSIB...08

jadWaL LSI putaran ke-2

Putaran Kedua------------

PERSIB BANDUNG vs Persipura, Senin 9 Februari 2009 Skor : 1 - 1
PERSIB BANDUNG vs PSM, Sabtu 14 Februari 2009 Skor : 0 - 0
PERSIB BANDUNG vs Persiba, Rabu 18 Februari 2009 Skor : 2 - 1
PERSIB BANDUNG vs PKT, Minggu 22 Februari 2009 Skor : 2 - 1
Pelita Jaya vs PERSIB BANDUNG, Senin 16 Maret 2009
PSIS vs
PERSIB BANDUNG, Sabtu 21 Maret 2009
PERSIB BANDUNG vs Sriwijaya FC Sabtu 28 Maret 2009
PERSIB BANDUNG vs PSMS, Rabu 1 april 2009
Persijap vs PERSIB BANDUNG, Sabtu 18 April 2009
Persita vs
PERSIB BANDUNG, Minggu 26 April 2009
Persitara vs
PERSIB BANDUNG, Minggu 3 Mei 2009
Arema vs
PERSIB BANDUNG, Sabtu 9 Mei 2009
Persik vs
PERSIB BANDUNG, Sabtu 16 Mei 2009
PERSIB BANDUNG vs Persiwa, Rabu 20 Mei 2009
PERSIB BANDUNG vs Deltras, Sabtu 30 Mei 2009
Persela vs PERSIB BANDUNG, Minggu 7 Juni 2009
Persija anJink vs PERSIB BANDUNG,Sabtu 13 Juni 2009